She Will Be Married

5 09 2007

Jumat nanti, InsyaAllah Melly-adiknya Hubby akan melangsungkan pernikahannya dengan pemuda dari Jogja. Mudah-mudahan semua berjalan lancar. Akad nikah dulu, syukurannya menyusul setelah lebaran Idul Fitri. Hm.., akhirnya setelah rencana ini cukup lama di kepala, beberapa hari lagi akan terlaksana juga…

Sementara Ibu sebelah (Bu Nami) InsyaAllah mau pindah ke rumah ’sendiri’ tanggal 10 nanti, dan kami pun juga akan pindah ke sebelah (eks. rumahnya Bu Nami). Bukan gak betah di rumah kontrakan yang ini, tapi karena rumah yang sekarang cukup besar untuk keluarga kecil seperti kami. Paling gak kalo di rumah sebelah kamarnya gak berlebih, dan pinggirnya gak semak-semak seperti sekarang………. Sebenarnya kami sedih juga Bu Nami & keluarganya bakal pindah, tapi mereka kan pindah ke rumah sendiri juga.. gak seperti kami pindahnya masih ke rumah kontrakan. Hihi.. Doain aja mudah-mudahan ada rejeki, bisa nyicil rumah sendiri kelak…

Besok rencananya aku kerja setengah hari, mau ke tempat Ibu, barangkali ada yang bisa dibantu untuk persiapan hari Jumat….





Makhluk itu Datang…

21 08 2007

Minggu malam..

Jam sebelas malam aku terbangun, setelah ketiduran. Belum sholat Isya. Aku bangunin Hubby, karena selalu gak berani ke belakang kalo malam-malam & sendirian. Selesai sholat, tanpa sengaja, aku memindahkan beberapa boneka Dymsi dari tempat tidur kami. Ternyata… Baca Lagi…





Tujuh Belasan

18 08 2007

Menyaksikan acara tujuh belasan tahun ini adalah yang pertama bagi Dymsi dan yang pertama bagi kami semenjak hampir setahun tinggal di rumah kontrakan ini. Lumayan meriah untuk lingkungan RT yang kecil seperti kami. Acaranya tepat di belakang rumah. Acara yang paling seru dan ditunggu-tunggu adalah panjat batang pinang. Dibandingkan dengan acara yang pernah dilakukan di kediaman si kembar, jelas yang disini jauh kalah. Masa sih, sendiri yang menegakkan batang pinangnya, sendiri juga yang memanjat. Maksudku, gak ada group lain – cuma satu group dan gak ada aturan mesti berapa orang… Istilahnya cincai-cincai aja, yang penting serunya. Hehe..

Aku gak ngikutin sampai selesai, karena…. Baca Selengkapnya





Memiliki & Menjadi

30 07 2007

Ini aku dapat satu artikel bagus lagi, dari blognya syahidfam. Mari jadikan bahan renungan, selagi kesempatan hidup di dunia ini masih ada…

Pak Sugiharto membangun villa megah di lereng bukit. Pemandangannya indah
dan udaranya segar. Di tempat lain masih punya dua villa lagi yang juga
megah. Belum tentu dua bulan sekali Pak Sugiharto sempat menginap di salah
satu villanya karena ia sangat sibuk. Praktis villa itu sepi sepanjang hari.

Pak Kromo sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa itu justru
yang menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Tetapi meskipun
Pak Sugiharto jarang sekali bisa menikmati villanya, bahkan mengeluarkan
uang untuk orang yang menunggu, dia tetap puas dan bangga karena dia yang
memiliki villa itu.

Mengapa tidak menyewa saja, kalau hanya sesekali memerlukan santai di luar
kota? Menyewa mungkin lebih praktis dan hemat, tetapi tidak memberi kepuasan
karena tidak ikut memiliki.

Di rumahnya ada delapan mobil. Anggota keluarganya hanya lima orang. Maka
ada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil paling mahal. Mobil mahal itu
dipakai hanya pada acara yang dianggap sangat penting dan prestisius.
Meskipun jarang dipakai, namun perawatan dan pajak mobil mahal menghabiskan
biaya paling banyak. Tetapi dia puas karena dia sebagai pemilik. Kepuasan
terletak pada pemilikan, bukan pemanfaatan.

Sementara Pak Hasan petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di
kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan cermat. Seorang saudagar yang
lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi
hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut.

“Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin
saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang
yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik
buahnya,” kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi
karena dapat memberi.

Dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan
menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat
memberi. Dua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari dua orientasi
hidup yang berbeda, yaitu orientasi “Memiliki” dan orientasi “Menjadi”.

Perbedaan

Erich Fromm (1900-1980), pemikir kenamaan kelahiran Jerman, mencoba
memahami, membuat diagnosis, dan memberi terapi penyakit pada zamannya yang
tengah mengalami krisis. Karyanya banyak, di antaranya bukunya “To Have or
To Be” yang terbit tahun 1976. Dalam buku ini, Fromm menjelaskan panjang
lebar dua macam orientasi manusia dalam memberi makna hidupnya, yaitu
orientasi Memiliki dan Menjadi.

Ciri utama dari orientasi “Memiliki” ialah kecenderungan memperlakukan
setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan
memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau
diperlakukan seperti benda. Orang yang berorientasi “Memiliki” tidak bisa
hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbul-simbul yang
menjadi miliknya.

Ketika miliknya itu lepas dari genggamannya, ia merasa eksistensinya hilang.
Orang yang mengandalkan mobilnya, rumah, kursi, popularitas, jabatan, dan
lain-lain sebagai simbol keberadaannya, maka terus-menerus berusaha agar
simbol-simbol itu tetap dimiliki. Sebab ketika semuanya lepas, maka
keberadaannya menjadi hilang. Semakin banyak yang dimiliki, maka ia merasa
kehadirannya semakin kukuh. Semakin sedikit yang dimiliki, semakin kurang
rasa percaya diri.

“Masyarakat yang serakah merupakan basis modus “Memiliki” kata Fromm.

Orientasi hidup Memiliki (To Have) berbeda dengan orientasi Menjadi (To Be).
Orientasi Menjadi mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari
dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang
berguna secara sosial. “Modus Menjadi menuntut agar kita membuang
egosentrisitas kita dan sikap mementingkan diri sendiri,” kata Fromm.
Orientasi Menjadi mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan
berkorban.

Orang dengan orientasi Menjadi akan selalu melakukan aktivitas. Menurut
Fromm harus dibedakan antara aktivitas dan kesibukan. Seorang tukang batu
yang diupah untuk mengerjakan pos keamanan, dia melakukan kesibukan, tidak
melakukan aktivitas. Sedang Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada
contoh di atas, dia melakukan aktivitas.

Tukang batu melakukan kegiatan karena digerakkan orang lain. Sedangkan
keinginan Pak Hasan menanam pohon timbul dari kesadarannya sendiri, tidak
disuruh orang lain. Motivasi itu yang membedakan aktivitas dan kesibukan.

Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seorang yang berorientasi
“Memiliki” akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar dia dapat
menikmati keharumannya sepanjang waktu. Tetapi orang dengan orientasi
Menjadi mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan
memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharuman baunya.

Bukan Pemilik

Orang yang berorientasi Memiliki jumlahnya cenderung sangat besar. Sedangkan
yang berorientasi Menjadi jumlahnya kecil. Orientasi Menjadi serupa dengan
apa yang disebut agama sebagai jalan mendaki, sedangkan orientasi Memiliki
berarti jalan menurun.

Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan dan memberi uluran pertolongan.
Sedangkan jalan menurun adalah jalan mudah dan menyenangkan karena menuruti
ego kita. Maka banyak orang memilih jalan menurun dan menghindari jalan
mendaki.

Tetapi justru karena orientasi hidup Memiliki atau memilih jalan menurun,
maka sering timbul krisis dalam banyak segi. Orientasi Memiliki, yang
berarti memperlakukan segala sesuatu seperti benda dan ingin menguasainya,
jika itu terjadi pada orang-orang “di atas”, maka krisis yang ditimbulkan
akan meluas dan mencakup banyak dimensi.

Atmosfir kehidupan serba materi yang sangat kental dewasa ini mendorong kita
lebih memanjakan egosentris kita, memupuk orientasi Memiliki, memperlakukan
segala sesuatu seperti benda, lalu menguasainya.

Jika kita kembali pada ajaran agama, maka kita tidak memiliki apa-apa,
karena sekadar hak pakai. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita.
Dalam kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”, sangat jelas bahwa kita
dan apa yang ada pada diri kita bukan milik kita melainkan milik Allah dan
akan kembali kepada-Nya.

Karena itu orientasi hidup Memiliki sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat
kemanusiaan kita. Seharusnya kita memilih orientasi Menjadi, memilih jalan
hidup Mendaki. “Carilah kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain.
Carilah kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain,” kata psikolog.

Yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita mencari kebahagiaan dengan cara
mengobankan orang lain. Kita mewujudkan kesenangan dengan cara merugikan
orang lain. Lebih celaka lagi, kalau kita baru merasa senang kalau orang
lain menjadi korban.

Tentu tak mudah memastikan apakah suatu perbuatan itu menunjukkan orientasi
Memiliki atau Menjadi. Kesulitannya karena manusia pandai berpura-pura,
membungkus motif yang sesungguhnya.

Memberi bantuan bisa saja bukan benar-benar ingin menolong, tetapi ingin
memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ingin memperoleh nama baik
disebut dermawan. Mungkin agar orang yang dibantu berada dalam pengaruhnya.
Mengajak damai ketika kondisi terpepet, boleh jadi karena ingin selamat,
bukan karena cinta damai. Ketika keadaan sudah lapang, konflik akan disulut
lagi. Manusia pandai berpura-pura.

Karena itu agama menegaskan bahwa senyum yang tulus jauh lebih berharga
daripada memberi materi dengan maksud tersembunyi atau menyakiti.

Bangsa ini sudah capek dengan pertengkaran dan kekerasan. Itulah korban dari
orientasi hidup Memiliki. Itulah hasil dari jalan menurun dan menghindari
jalan mendaki.*

Oleh: Nur Cholis Huda

Penulis adalah Sekretaris Muhammadiyah Jawa Timur





Ngantuk-TV-Dymsi-Buat Bubur??!!??

26 07 2007

Hari ini ngantuk banget di kantor. Gak tau kenapa. Padahal tadi malam tidurnya udah cukup.. Mana gak ada kerjaan yang diburu lagi, jadi males… Akhirnya aku cek email kantor, cek emailku, browsing, baca blog Ewoy yang selalu penuh cerita asik. Salute juga sih sama dia, karena kreatif, Bo! Mana masih muda lagi…
Baca gosip artis, kabarnya Tamara Blezinsky udah dapet pacar baru – bule, Choy! Ya,namanya juga artis gak heran kalo tingkah laku mereka jadi bahan cerita.
Kemarin aku buka group yahoo : Singkep, ada himbauan untuk tidak memberikan tontonan televisi pada anak-anak tanggal 22 Juli kemarin, sebagai wujud kepedulian Hari tanpa TV. Jadi inget kembali sedikit adu argumen dengan Hubby beberapa waktu lalu mengenai televisi. Di rumah kami memang belom ada televisi “murni”, yang saat ini ada cuma TV Tuner dari komputer aja. Kata Hubby semua yang dimiliki itu butuh pertimbangan: pantas atau gak. Sebenarnya semua orang tahu kalo TV sama sekali bukanlah barang yang “wah”, tapi efeknya itu lho… Lihat pola tingkah laku anak-anak sekarang, semua banyak pengaruh dari tontonan yang mereka lihat – kebanyakan dari televisi!
Pikir-pikir iya juga, harus bisa kontrol banget sama anak kalo memang mesti memberikan hiburan berupa televisi.

Oya, kemarin aku teringat Solaria, udah lama gak makan di sana, lagian udah lama juga gak malam mingguan sama Hubby. Kalo gak hujan dan kalo gak ada halangan pengen deh ke sana. Hubby akhir-akhir ini cukup sibuk, Sabtu-Minggu plus ke sekolah, karena jadwal pelatihan internetnya ya dua hari itu. Hiks, gak ada liburnya.. Makanya gak tega juga maksain dia untuk jalan-jalan, padahal dia juga pengen banget. Kasian aja, mana jarak sekolah sama rumah lumayan jauh dibandingin sebagian besar guru-guru yang lain. Tapi walau begitu aku gpp, kebetulan aku bukan type ‘pengukur jalan’ juga sih, jadi seharian main sama Dymsi di rumah juga asik. Dymsi yang sekarang suka ngoceh, dan bandel banget kalo mimik, masa akunya yang terlentang, eh dianya yang tengkurep di dadaku! Sambil senyum-senyum ngemut mpeng kesayangannya.. Nah lo!!
Kemarin mamak telefon, foto Dymsi yang aku kirimin udah nyampe. Alhamdulillah dibilang cantik, wah pasti nenek rindu banget nih sama cucunya yang satu ini… Kapan ke sini lagi, Nek?
Udah setengah dua belas juga, akhirnya… bentar lagi pulang mau main sama Dymsi walaupun cuma satu jam. Eh iya siang ini mau nyempetin masak bubur pulut pake durian, kemarin Wak sebelah borong durian trus kita kebagian.. Sari gak suka kalo dimakan gitu aja, makanya aku pikir bagusan dibuat bubur, biar semua bisa makan. Nyam..nyam..nyam…





Saya Adalah Ibu Rumah Tangga

17 07 2007

Aku nemuin artikel ini. Bagus banget untuk dibaca, direnungi & diambil hikmahnya..

 

Saya adalah Ibu Rumah Tangga

 

Oleh: Lizsa Anggraeny

 

21 Apr 2006 06:48 WIB

 

Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order,

meeting supplier, incoming inspection… Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan,

saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu

rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda

biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar

belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke

pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier;

sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua

saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan

rumah.

 

Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja

dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan

rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan

keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya

hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja,

ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya

wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus

pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai

semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur

yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.

 

Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah

tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui.

Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi

wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah

benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya

berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak

sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.

 

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat

kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk

mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak

berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan,

meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang

berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk

mengayomi rumah tangga.

 

Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat

mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem, tentrem. Ditambah

dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah

tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.

 

Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi

tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen

saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan

diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan

perkerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi

berjalannya managemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas

dan ridha untuk mendapat `gaji` berupa palaha tak terhingga dari Allah swt.

Juga `bonus` berupa surga jika patuh pada suami. Insya Allah.

 

Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru

dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksible dalam

mengembangakan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya dapat lulus

Nihongo Nouryoku Shiken (Tes Kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah

berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada, juga dapat

mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu

rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum

kepenulisan.

 

Saya bercermin dari ummahatul mukminin di antaranya Siti Khadijah ra.,

seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang

suami Rasulullah saw. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungannya

begitu kuat. Begitupula dengan puteri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah

ra., yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun

membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu

karena sering menyapu.

 

Hingga pernah Rasulullah saw berkata pada Fatimah ra. untuk menghiburnya,

“Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum

untuk suaminya maka Allah swt. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh

buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir

rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah swt. akan mencatatkan

baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang

lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Perempuan

mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk

suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit

(malaikat), Teruskanlah amalmu maka Allah swt telah mengampunimu akan

sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang.”

 

Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang

tidak bisa digantikan oleh siapapun selain saya sendiri – ibu rumah tangga.

Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang

bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, “Saya

adalah ibu rumah tangga.”

 

Renungan diri, aishliz et yahoo.com.sg, FLP Jepang

 

Pasted from <http://syahidfam.blogspirit.com/archive/2006/04/27/saya-adalah-ibu-rumah-tangga.html>

 





Tampilan Baru

14 07 2007

Akhirnya…, punya juga tampilan header sendiri…, dengan background simungil kami. Hasil karya Hubby tuh, tadi malam (thanks yaa sayang… ;) ). Senang punya Hubby seperti yang aku miliki…

Besok libur, hari minggu. Biasanya sih aku menghabiskan waktu dengan Dymsi dan Hubby. Kadang jalan-jalan, ke rumah saudara, kadang ke pesta pernikahan teman-teman (musim liburan kan banyak yang married..). Tapi sepertinya besok aku mesti ke tempat Ibu. Yati (adiknya Hubby) mau buat acara syukuran ulang tahun yang ke-24 di rumah. Trus minta aku masak nasi goreng, gitu.. Katanya sih nasi goreng bikinanku enak.. (hehehe…) :P

Oya, aku akhir-akhir ini ketularan penyakitnya Hubby, suka ngenet. Browsing gak tau-tau udah sampe ke mana-mana. Jadi males kerja.. (gak baik tuh…). Aku ketemu link buat masa depan. Buat Ibu rumah tangga yang mau berbisnis.

Nah, makanya aku baru buka halaman bisnis, maksudnya mau memulai sesuatu yang berbeda untuk massa depan. Aku ingin jadi Ibu rumah tangga yang produktif-lah. Cuma untuk saat ini bingung, mau buat usaha apa, dan yang paling penting, modalnya harus ada dulu.. Hiks..

Tapi tekadku bulat kok, berbisnis… dan aku yakin aku bisa… yang penting sekarang aku mau belajar, membaca,mencari referensi sebanyak-banyaknya untuk bekal memulai usaha…..





Kemana Aja, Nih???

12 07 2007

Hai..

Udah lama nih, gak nge-blog. Dibilang sibuk banget gak juga, lagi malas aja kali yaaa.. Ada satu bulan deh kosong. Alhamdulillah kami sekeluarga baik-baik aja. Dymsi udah hampir 9 bulan (tapikalo versi babby weekly udah 9 bulan teng). Udah bisa duduk sendiri, malah sekarang udah mau ditatah terus-terusan.

Hubby gak libur tahun ini. Belum dapat jatah cuti. Lagian di sekolah ada workshop dengan Kepsek baru, jadi hari-harinya tetap full. Trus juga ada pelatihan internet untuk lingkungan Yayasan, Hubby jadi salah satu instrukturnya (setelah mendapatkan pelatihan dari TELKOM). Apa gak sibuk, tuh?? Kalo aku sih, seperti biasa-biasa aja. Ngantor setiap hari, kadang sibuk, kadang santai.

Kapan ya, aku bisa punya usaha sendiri. Menjalankan bisnis di rumah tanpa harus meninggalkan Dymsi, tentu menyenangkan.. Apalagi sekarang ini Dymsi semakin besar, semakin mengerti Ayah & Bundanya. Kalo aku pergi kerja terkadang Dymsi juga menangis, oh sedihnya..

Aku gak punya cita-cita bekerja dengan orang lain selamanya, maksudku berkerja di luar rumah. Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang produktif. Hehe… Semoga tercapai suatu saat nanti yaa.. Amin.





Ini tentang Sari

26 05 2007

 dsc01485.jpg

Nurmasari…

Kurasa nama lengkapnya begitulah. Kami memanggilnya Sari. Tetapi orang-orang ditempat tinggalnya dulu – terutama yang ada hubungan keluarga memanggilnya Norma. Mungkin dia kurang suka dengan nama itu, sehingga ketika memperkenalkan diri dia menyebut dirinya Sari.

Hampir empat bulan Sari menjaga Dymsi, dan Dymsi sudah begitu dekat dengan Sari. Dymsi mengenal dengan baik sekali. Kadang kalau aku pulang kerja dan menggendong Dymsi, tak lama kemudian ketika Sari muncul kembali dari belakang, Dymsi histeris, menggumam, tangannya bereaksi bersama seluruh anggota badan. Menarik perhatian Sari, minta diambil.

Kami berjumpa dengan Sari adalah suatu kebetulan, dan jelas sebuah Anugrah dari Allah sehingga setiap hari aku bisa bekerja dengan tenang. Sungai Pagar, tempat David (saudara Hubby) tinggal, disitu Sari kami jemput. Dan adalah suatu kebetulan pula jika Sari berada di sana saat itu.

Sipiongot..

Baru kali ini sih nama itu aku dengar. Daerah Padang Sidempuan, disanalah orang tuanya tinggal, da disana pulalah Sari dilahirkan. Sari tamat Tsanawiyah, tahun lalu dan tidak menyambung ke Aliyah. Aku tidak mengerti dengan jelas, mengapa dan apa sebabnya dia tidak menyambung. Yang diceritakannya dia merasa tidak sanggup menghafal “xxxx” aja. Tetapi sekarang dia menyesal, katanya.

Tidak bisa berkomunikasi dengan orang tuanya, aku tidak tahu bagaimana bisa membuat dia berkomunikasi dengan orang tuanya. Di sana tidak ada telepon, atau HP. Aku tahu, terkadang dia merasa rindu dengan keduanya, karena kadang dia diam saja.

Tidak ada niat sebelumnya untuk bekerja seperti yang sekarang ini. Dari kampung ikut Paman ke Kebun Durian, lalu pindah ke Sungai Pagar, dan akhirnya sampailah di rumah kontrakan kami. Waktu berada di Sungai Pagar, ditawari kerja oleh Ibu David. Sempat gak mau, tapi karena Pamannya bilang “Apa kau gak mau beli baju?” Dia berpikir, cari uang untuk diri sendiri kenapa tidak??? Pun pada kisah selanjutnya dia setuju, dan berniat untuk kerja.

Sari tidak tau jalan pulang ke Sipiongot. Apalagi kami, lebih tidak tau. Jadi, lebaran nanti, katanya kalau Bibi atau Pamannya gak pulang, ya dia gak pulang juga. Sejujurnya, aku sudah merasa senang dengan caranya menjaga Dymsi, dan aku takut serta tidak bisa membayangkan kalau lebaran nanti dia pulang dan tidak kembali lagi ke rumah kami.

Jika dia pulang ke Sipiongot, kemungkinan besar dia susah untuk kembali. Karena barangkali kedua orang tuanya tidak akan memberi ijin, apalagi kalau sampai tau anak perempuannya kerja di Pekanbaru. Aku dan Hubby menganggap dia seperti bukan sebagai “pembantu”, karena tanpa dia mungkin kami tidak bisa bekerja dengan tenang seperti sekarang ini…

Cerita tentang Sari…,

Terbersit tadi malam, aku merasa ingin menceritakannya di dalam blog sederhanaku ini. Bagaimanapun juga, Sari pernah menjadi anggota di rumah kontrakan kami. Dan masih sampai saat ini…..





The First Blog (Introduction)

19 04 2007

Tadinya aku belajar ngeblog di tempat lain…. Tapi karena blog tersebut kurang praktis, dan aku kebingungan. Ternyata setelah melihat suami nge-blog di sini dan lebih simpel, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menulis kembali, di blog yang berbeda!!

Aku seorang Ibu rumah tangga dengan 1 bayi berumur 6 bulan. Bayi kami, simungil diberi nama Dymsi Qu Radtu Ayuni, Si Penyejuk mata yang lahir pada 27 Ramadhan 1427 H. Aku juga pekerja di sebuah perusahaan swasta, bergerak di bidang alat berat, sekaligus kontraktor di PTPN V dan beberapa perusahaan swasta di Pekanbaru. Perusahaan kami fabrikasi peralatan / mesin-mesin Pabrik Kelapa Sawit. Jabatanku adm biasa aja, ya.. lumayanlah bisa nge-net, bisa dengar musik, bisa nge-teh… :)

Rumah & kantor hanya berjarak 5 menit kalau jalan kaki, seperti hampir tiap hari aku lakukan. Setiap siang – jam makan – aku pulang, semata-mata untuk simungil kami, supaya tidak terlalu merasa kehilangan “Bundanya”.

Yah, begitulah aku dengan blog pertamaku! The next blog, just wait….